Rabu, 16 Oktober 2019

Mengenal Creative Commons dari Kaca Mata Angkuy Bottlesmoker

Lisensi alternatif pembuka ruang kreatif yang lebih fleksibel.

Galih Priatmojo | Aditya Prasanda
(Wikimedia Commons Yassir Amry)
(Wikimedia Commons Yassir Amry)

Guideku.com - Lisensi creative commons, pernahkah kamu mendengar hal ini?

Lisensi alternatif yang berjalan beriringan dengan hak cipta tersebut memungkinkan para pegiat seni, sastra dan ilmu pengetahuan untuk memberikan kebebasan pada semua orang guna menyebarluaskan, menggunakan dan membuat sesuatu yang baru dari karya yang bersangkutan.

Kita pun dapat memilih kebebasan apa yang ditawarkan pada para pendengar untuk menyikapi karya kita, seperti halnya mengizinkan orang lain menggunakan karya tersebut untuk kepentingan nonkomersial.

Sosialisasi alternatif hak kekayaan intelektual bagi para pelaku ekonomi kreatif ini yang hendak diperkenalkan organisasi nonprofit, Creative Commons Indonesia di seluruh negeri. Tak terkecuali di Yogyakarta.

Mengusung tagline, 'Kenali Hakmu, Bagikan Karyamu,' Creative Commons Indonesia (CCID) bekerja bersama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengadakan dua sesi gelar wicara di Easparc Hotel, Yogyakarta pada Rabu (10/4).

Anggung Suherman, salah satu anggota grup musik elektronik asal Bandung, Bottlesmoker turut urun suara menjadi narasumber dalam sesi pertama diskusi 'Kenali Hakmu,' yang bertujuan memberikan bimbingan pengelolaan hak cipta bagi para pelaku kreatif terkait aktivitas berbagi konten hari ini.

(Guideku.com/ Adit)
(Guideku.com/ Adit)

 

Angkuy, sapaan akrab pria yang juga berprofesi sebagai satff pengajar di Universitas Padjajaran ini menceritakan pengalamannya sebagai praktisi musik yang turut mempopulerkan lisensi creative commons pada khalayak industri kreatif di Indonesia melalui grupnya, Bottlesmoker.

''Creative commons dan persinggungan kami (Bottlesmoker) dengan netlabel membawa kami mengenal jaringan musik yang lebih luas, tak hanya di Indonesia namun juga di luar negeri,'' buka Angkuy menyoal dampak creative commons pada grup musiknya.

Angkuy pun meyakini lisensi konten terbuka tersebut memberikan banyak keuntungan bagi dirinya di luar fungsi ekonomis. Misalnya saat persebaran pengetahuan yang lebih luwes tersebut memungkinkan terjadinya kolaborasi lintas disiplin dengan pekerja kreatif lainnya yang tak mungkin dapat terjadi pada karya dengan lisensi hak cipta konvensional nan kaku.

Perjumpaan angkuy dengan lisensi konten terbuka bermula kala dirinya dahulu menghadiri berbagai komunitas yang menjajakan software musik gratis.

Berawal dari forum tersebut, ia mulai mengenal infrastruktur yang mendukung jaringan global untuk mengiringi kreativitas digital dan mewadahi hasrat berbagi inovasi insan kreatif dunia.

Dari creative commons pula ia mengenal netlabel, Yes No Wave di Yogyakarta yang juga mengusung creative commons sebagai lisensi alternatif karya-karya yang dinaungi label independen tersebut.

Lantas apakah dengan menggunakan lisensi creative commons, semua karya dengan lisensi ini gratis digunakan untuk segala kebutuhan?

Tidak juga, bergantung pada pilihan atribusi apa yang kita gunakan.

Angkuy dan Bottlesmoker misalnya, mengaku menggunakan atribusi non komersial yang mengizinkan para pengguna lain untuk mengolah, menyebarluaskan, dan menyalin karya mereka dengan tujuan nonkomersial.

Artinya, jika musik mereka digunakan untuk iklan pariwara di televisi mereka tetap berhak menuntut royalti atas penggunaan karya tersebut.

''Free bukan berarti gratis. Lebih memudahkan penyebarannya namun bukan berarti karya kami bisa digunakan untuk kepentingan komersial dengan cuma-cuma,'' tegas Angkuy.

Berangkat dari hal itu pula, sebaliknya ia tetap menghormati mereka yang meremix maupun mengcover lagu Bottlesmoker di platform populer macam Youtube yang menurutnya menjelma karya turunan baru dari karya aslinya.

Lalu, bagaimana Angkuy dan Bottlesmoker mengatasi kemungkinan artis cover lebih populer ketimbang mereka sendiri?

Ia menyiasatinya dengan bekerja bersama agregator (rekanan ketiga) untuk mengalihkan monetisasi (keuntungan) yang diperoleh si artis cover pada dirinya.

''Kami bekerja bersama agregator untuk mengalihkan keuntungan yang diperoleh si pengcover di Youtube, sehingga tetap fair,'' tandas Angkuy.

(Guideku.com/ Adit)
(Guideku.com/ Adit)

 

Dimoderatori Harsa Wahyu Ramadhan, selaku perwakilan dari CCID, sesi pertama dikusi tersebut turut menampilkan narasumber Tomi Suryo Utomo, Pakar Hak Cipta dari Universitas Gadjah Mada yang dalam sesi tersebut lebih mengedepankan pengenalan dasar istilah-istilah seputar dunia hak cipta.

 

 

Terkait

Terkini