Minggu, 17 Februari 2019

Bukan Sekadar Hidangan Imlek, Ini 4 Filosofi di Balik Kue Keranjang

Tak heran kue keranjang selalu ada tiap Imlek

Galih Priatmojo | Amertiya Saraswati
Kue Keranjang Legendaris di Jogja (Guideku.com/Amertiya)
Kue Keranjang Legendaris di Jogja (Guideku.com/Amertiya)

Guideku.com - Layaknya hidangan tahun baru yang biasanya menyimbolkan keberuntungan, umur panjang, dan hal-hal positif lainnya, kue keranjang yang ada saat perayaan Tahun Baru China pun demikian.

Memiliki warna cokelat, rasa manis, dan tekstur lengket seperti dodol, kita semua tahu jika kue keranjang identik dengan perayaan Imlek.

Meski begitu, selain untuk dimakan bersama-sama keluarga, ternyata kue keranjang juga mengandung berbagai filosofi dan makna mendalam, lho!

Yuk cari tahu apa saja filosofi kue keranjang yang sudah dirangkum Guideku.com berikut!

1. Tekstur kue keranjang yang lengket

Kue Keranjang Legendaris Ibu Sulistyowati di Jogja (Guideku.com/Amertiya)
Kue Keranjang Legendaris Ibu Sulistyowati di Jogja (Guideku.com/Amertiya)

 

Terkenal lengket saat dimakan, ternyata hal ini menyimbolkan hubungan keluarga yang lengket dan erat.

Yup, seperti yang kita tahu, kue keranjang memang biasanya dimakan bersama keluarga selepas ritual Imlek dilakukan.

Tidak hanya itu, kue keranjang juga dapat dibagikan ke tetangga dan teman-teman sebagai simbol keakraban dengan yang bersangkutan.

2. Disajikan disusun ke atas

Kue Keranjang Legendaris Ibu Sulistyowati di Jogja (Guideku.com/Amertiya)
Kue Keranjang Legendaris Ibu Sulistyowati di Jogja (Guideku.com/Amertiya)

 

Tak cuma satu ukuran, kue keranjang kadang diproduksi dalam ukuran besar hingga kecil.

Kue-kue keranjang ini kemudian akan disajikan dengan cara disusun ke atas layaknya piramida.

Hal ini bermakna agar doa-doa saat Imlek bisa tersampaikan pada Yang di Atas. Selain itu, kue keranjang yang disusun menjulang ke atas juga menggambarkan rezeki dan kehidupan yang lebih baik.

3. Harus berjumlah ganjil

Kue Keranjang Legendaris Ibu Sulistyowati di Jogja (Guideku.com/Amertiya)
Kue Keranjang Legendaris Ibu Sulistyowati di Jogja (Guideku.com/Amertiya)

 

Selain disajikan dalam jumlah satuan, kue keranjang yang disusun ke atas rupanya harus memiliki jumlah ganjil lho, travelers!

Normalnya, produsen kue keranjang akan menyusunnya dalam jumlah 3, 5, atau 7.

Sedangkan angka 4 atau shi dalam bahasa China dilarang keras karena berarti kematian. Jadi, jangan coba-coba memberi kue keranjang dalam jumlah 4 saat Imlek, ya!

4. Hasil pembuatan kue keranjang bergantung pada emosi pembuatnya

Kue Keranjang Legendaris di Jogja (Guideku.com/Amertiya)
Kue Keranjang Legendaris di Jogja (Guideku.com/Amertiya)

 

Lewat wawancara yang dilakukan tim Guideku.com dengan Ibu Sulistyowati selaku produsen kue keranjang legendaris di Jogja, proses pembuatan kue keranjang ternyata dipengaruhi emosi.

Sebagai contoh, adanya peristiwa kematian keluarga dan emosi negatif lainnya dapat membuat kue keranjang yang dimasak gagal atau memiliki rasa tidak enak.

Wah, ternyata dalam juga ya makna di balik kue keranjang ini!

Kamu sudah beli kue keranjang untuk perayaan Imlek tahun ini belum nih?

Terkait

Terkini