Rabu, 27 Maret 2019

Dalam Sunyi Meracik Kopi Tuli, Dalam Diam Merambah Seni Peran

Sepotong kisah teman tuli yang menolak menyerah dalam keterbatasan.

Dany Garjito
Kedai Kopi Tuli. [Suara.com/Firsta Nodia]
Kedai Kopi Tuli. [Suara.com/Firsta Nodia]

Guideku.com - Jakarta selalu ramai, selalu bising, sehingga menjadi tuli di ibu kota adalah ironi. Namun di dalam keheningan, mereka justru bisa khusyuk bertafakur, untuk menorehkan kata-kata yang tak mudah dilupakan: melalui karya, kaum tuli berbicara.

Salah satu kedai kopi di daerah Duren Tiga, Jakarta Selatan, terlihat lain dari kedai-kedai penyedia minuman berwarna hitam pekat itu: tenang, bahkan cenderung senyap.

Beberapa meja dalam kedai sudah terisi pengunjung yang asyik bercengkerama sambil menyeruput kopi, sedangkan barista tampak sibuk meracik.

Kedai tersebut bernama Kopi Tuli atau beken lewat akronimnya, Koptul. Semua pegawainya tuli, mulai dari barista, pelayan, dan kasirnya.

Koptul adalah kreasi perempuan tuli bernama Putri Santoso. Ia juga yang menjadi sosok inisiator Sampaguita Foundation.

"Aku investor di kedai Koptul ini, bersama Iman, temanku yang juga tuli. Ini adalah kedai kedua, yang pertama di daerah Depok, aku dirikan bersama Mohammad Adhika Prakoso serta Tri Erwinsyah Putra," tuturnya, seperti dikutip dari Suara.com.

Saat wawancara, Putri ditemani sang suami yang juga sesekali berperan sebagai penerjemah. Putri meminta setiap pertanyaan disampaikan dengan gerak mulut yang lebih terbuka. Sebab, ia bisa memahami bahasa dengan membaca gerak bibir.

Putri Santoso, Co-Founder kedai Kopi Tuli sekaligus inisiator Sampaguita Foundation. [Suara.com/Erick Tanjung]
Putri Santoso, Co-Founder kedai Kopi Tuli sekaligus inisiator Sampaguita Foundation. [Suara.com/Erick Tanjung]

Sarjana Desain Komunikasi Visual Universitas Bina Nusantara ini mengakui, merintis usaha kedai Koptul karena susah mendapat pekerjaan di bidang industri.

Selain itu, ia juga berharap kedainya bisa memberi lapangan kerja bagi teman tuli. Sebab, orang tuli selama ini kesulitan mencari pekerjaan lantaran soal berkomunikasi. 

"Koptul ini menjadi jawaban atas kekecewaan kami, yaitu sulit mendapatkan pekerjaan di perusahaan dan institusi lain. Melalui kedai ini, kami ingin membuktikan kemandirian," ujarnya.

Kenapa kedai kopi? Bagi Putri, kopi bisa menjadi medium komunikasi. "Sebab, orang yang suka kopi, biasanya senang mengobrol," ungkapnya.

Dalam kedai itu, pembeli—yang mayoritas pendengar—dan pelayan yang tuli bisa saling berinteraksi. Para pelayan selalu senang mengajarkan cara menggunakan bahasa isyarat.

"Jadi, ada sensasinya ngopi di Koptul," katanya.

Lantai atas Koptul, digunakan Putri untuk membuka kursus bahasa isyarat. Pesertanya adalah si tuli dan si dengar.

Kursus bahasa isyarat berlangsung setiap hari Senin, Rabu dan Jumat pada pukul 19.00 WIB. "Pesertanya rata-rata teman-teman dengar. Satu kelas 15 orang."

Putri memunyai cita-cita mengembangkan Koptul dengan membuka gerai di banyak tempat dan melebarkan usahanya pada bidang lain.

Tujuannya agar dapat membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas bagi orang-orang tuli seperti dirinya.

Pada rentang periode pendek, Putri memiliki cita-cita memberikan pelatihan-pelatihan barista dan kakery, serta menyosialisasikan bahasa isyarat ke beberapa sekolah umum.

Kedai Kopi Tuli. [Suara.com/Firsta Nodia]
Kedai Kopi Tuli. [Suara.com/Firsta Nodia]

Sementara targetnya untuk jangka menengah, bisa membuka kedai-kedai Koptul di Jabodetabek dan daerah lain.

"Target jangka panjang, aku ingin membuat rumah produksi," ungkapnya.

Kekecewaan dan Jalan Berdikari

Si tuli harus bisa berdikari, berdiri di kakinya sendiri alias mandiri, begitulah prinsip Adhika Prakoso. Pria muda tersebut adalah rekan sejawat Putri dalam merintis kedai Koptul.

"Kedai kopi kami ini baru dibuka pada 12 Mei 2018. Ini jawaban atas persoalan sulitnya mendapat pekerjaan yang layak hanya karena keterbatasan kami," ujar Adhika kepada Firsta Nodia—jurnalis Suara.com.

Adhika mengakui, tak bisa mendapatkan pekerjaan di luar sana meski telah memasukkan lamaran kerja ke sedikitnya 200 perusahaan.

Semua bermula dari kecintaan Adhika terhadap kopi.  Ia bahkan pernah mengambil kursus singkat untuk belajar meramu dan mengelola bisnis kopi di Toffin.

"Belajar dan dapat mesinnya di Toffin. Satu minggu belajar. Jadi saya belajar mengoperasikan mesin pembuat kopi dan juga bisnisnya. Semua lebih mudah karena saya memang pecinta kopi, dan sudah punya dasar meramu kopi," kata Adhika.

Mengobrol dan belajar isyarat di Kopi tuli (Suara.com/ Peter Rotti)
Mengobrol dan belajar isyarat di Kopi tuli (Suara.com/ Peter Rotti)

Dalam kedai Koptul, pengunjung tidak hanya bisa menyeruput kopi, tapi juga mempelajari bahasa isyarat. Pada kemasan gelas kopi Kotpul, dibubuhi simbol Bisindo beserta abjad yang diwakili.

Dunia tuli dan dunia dengar sangat berbeda, sehingga Adhika berharap simbol Bisindo yang disematkan pada gelas kopi bisa membuat mereka bertukar banyak informasi.

"Saya melihat pengunjung senang berkumpul dengan teman tuli karena dunia kami sangat berbeda. Ketika mereka menguasai Bisindo kami lebih mudah berbagi informasi," katanya.

Namun, Adhika mengakui ia dan teman-teman sekerjanya sempat kesulitan berkomunikasi dengan pengunjung yang mayoritas kaum pendengar, meski telah membubuhkan Bisindo pada gelas.

Adhika kembali bersiasat. Ia menyediakan menu minuman dengan simbol abjad A, B, C, D, E, F, G, H, I untuk mempermudah pengunjung saat memesan.

Contohnya, ketika pengunjung mau memesan Kosu Koso alias Es Kopi Susu, maka hanya tinggal menyebutkan abjad A kepada pelayan.

"Kami juga bisa menggunakan kemampuan verbal atau dengan bantuan gestur tangan ketika pengunjung tidak bisa bahasa isyarat," tambah Adhika.

Adhika berharap, semua pengunjung Koptul bisa menyesapi aroma kopi, mencecap cita rasa, dan juga menghargai perbincangan.

Berbicara, adalah cara paling purba bagi manusia sehingga bisa mengubah serta menundukkan dunia untuk kemajuan peradaban.

Hal itu pulalah, yang membuat Adhika sengaja tidak menyediakan jaringan internet nirkabel alias WIFI.

"Di sini tak ada WIFI. Biar semua pure mengobrol."

 

Terkait

Terkini