Ahmad Dhani dan Once Mekel. (Dok. Instagram)
Guideku.com - Drama soal royalti musik di Indonesia kini punya babak baru yang makin seru, dan tentu saja, aktor utamanya masih sama: Ahmad Dhani dan Once Mekel.
Di saat Dhani blak-blakan menyindir Once "nggak paham" konsep royalti, Once ngeluarin pernyataan dan solusi-solusi canggih yang seolah membungkam balik argumen Dhani.
Ini bukan lagi sekadar soal duit. Ini adalah "perang" argumen tentang bagaimana seharusnya industri musik kita berjalan.
'Serangan' Ahmad Dhani: 'Penyanyi Aja Kayak Once Gak Paham!'
Dalam sebuah podcast, Ahmad Dhani kembali "ngegas" soal royalti. Menurutnya, kata "royalti" itu terdengar negatif di telinga banyak orang karena peradaban kita "belum tinggi-tinggi banget". Dan yang paling nyelekit, ia menjadikan Once sebagai contoh utamanya.
"Jadi enggak usah masyarakat biasa ya, penyanyi aja kayak misalnya Once nih ketika saya tagih royalti [...] di telinganya Once juga tone-nya negatif," sindir Dhani, (13/8/2025).
Menurut Dhani, Once nggak paham kalau saat ia menyanyikan lagu Dewa 19 dan dibayar ratusan juta, ada hak pengarang lagu (yaitu Dhani & Andra) di dalamnya.
"Ketika Once menyanyikan lagu Dewa 19, which is itu karya saya, Once dibayar lebih dari penyanyi kawinan, Rp 100 juta lebih [...] Fairness-nya kan harusnya ada, namanya royalti ke pengarang lagunya," lanjut Dhani.
Ia bahkan mengenang saat menagih royalti itu, Once justru menuduhnya "malak". "Sama seperti kafe-kafe itu juga seolah-olah mereka dipalak oleh LMKN," ucapnya.
'Jawaban Elegan' dari Once: Bukan Ribut, tapi Perbaiki Sistemnya!
Nah, di saat Dhani lagi sibuk menyindir, Once Mekel yang kini juga jadi anggota DPR RI Komisi X justru datang dengan respons yang jauh lebih "dewasa" dan solutif. Ia nggak membalas sindiran Dhani, tapi justru fokus pada perbaikan sistem.
Menanggapi terbitnya Peraturan Menteri Hukum dan HAM (Permenkumham) baru soal royalti, Once memberikan sejumlah masukan canggih.
Manfaatkan Teknologi Digital: Once mengusulkan agar LMKN menggunakan sistem monitoring digital yang canggih untuk memantau penggunaan lagu secara akurat dan real-time. Jadi, nggak ada lagi cerita "asal tembak" tagihan.
Perbarui Pusat Data Lagu: Menurutnya, Pusat Data Lagu dan Musik (PDLM) harus terus di-update biar jelas siapa penciptanya, siapa penyanyinya, dan siapa pemilik rekamannya.
Revisi Tarif Kalau Perlu: Once juga membuka kemungkinan untuk merevisi tarif pungutan royalti, asalkan disepakati oleh semua pihak.
"Langkah-langkah ini bertujuan menciptakan keseimbangan yang adil dan proporsional bagi seluruh pemangku kepentingan," jelas Once.
Jadi, Siapa yang Sebenarnya 'Gak Paham'?
Gengs, "perang argumen" antara Dhani dan Once ini benar-benar menunjukkan dua pendekatan yang sangat berbeda.
Di satu sisi, ada Dhani yang fokus pada hak fundamentalnya sebagai pencipta lagu dan merasa frustrasi karena hak itu sering diabaikan, bahkan oleh rekan seprofesinya sendiri.
Di sisi lain, ada Once yang mencoba melihat dari gambaran yang lebih besar. Baginya, masalahnya bukan cuma soal "bayar atau tidak", tapi soal sistem yang harus diperbaiki biar adil, transparan, dan nggak bikin ribut terus-terusan.
Drama ini mungkin nggak akan selesai dalam waktu dekat. Tapi setidaknya, ini membuka mata kita semua tentang betapa rumitnya "dapur" industri musik.
Jadi, kamu tim mana? Tim "Hak Pencipta Harga Mati" ala Dhani, atau tim "Perbaiki Sistem Dulu Baru Nagih" ala Once?