Pungli Hingga Miliaran, Kasus Bullying di PPDS Undip Akhirnya Masuk Persidangan

Kasus pungli dan bullying di PPDS Undip terbongkar usai kematian dr. Aulia. Uang miliaran ditarik diam-diam. Gimana bisa? Simak kisah lengkapnya di sini!

Reza Sulaiman | Anggia Khofifah P
Kamis, 10 Juli 2025 | 12:00 WIB
Tersangka Kasus Pungli dan Bullying di PPDS Undip (X)

Tersangka Kasus Pungli dan Bullying di PPDS Undip (X)

Guideku.com - Tragis dan bikin miris. Itulah kata yang tepat buat menggambarkan kasus yang lagi ramai dibahas di dunia pendidikan kedokteran Indonesia: dugaan pungutan liar (pungli) dan perundungan di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi Universitas Diponegoro (Undip), Semarang.

Kasus ini jadi sorotan besar karena berujung pada hilangnya nyawa seorang calon dokter spesialis!

Awal Mulanya Gimana?

Pada Agustus 2024, publik dikejutkan dengan kabar meninggalnya dr. Aulia Risma Lestari, seorang residen (mahasiswa PPDS) di Fakultas Kedokteran Undip. Ia diduga bunuh diri karena tekanan hebat selama menjalani pendidikan, mulai dari pungli, perundungan, sampai budaya senioritas yang nggak sehat.

Kejadian ini langsung bikin Kementerian Kesehatan turun tangan dan membekukan sementara kegiatan klinik PPDS Anestesi Undip di RSUP Dr. Kariadi Semarang.

Siapa Aja yang Terlibat?

Ada tiga nama besar yang ditetapkan sebagai tersangka dan kini duduk di kursi pesakitan:

  1. Taufik Eko Nugroho (TEN) – Mantan Kaprodi Anestesiologi FK Undip
  2. 2. Sri Maryani (SM) – Staf administrasi program
  3. 3. Zara Yupita Azra (ZYA) – Dokter senior dan pembimbing korban

Mereka didakwa terlibat dalam praktik pungli dan pemaksaan terhadap para residen PPDS dari tahun 2018 sampai 2023.

Pungli Berkedok "Biaya Operasional"

Jaksa mengungkap, tiap mahasiswa PPDS "diwajibkan" bayar Rp60 juta sampai Rp80 juta, yang katanya buat ujian dan operasional akademik. Tapi faktanya, uang itu nggak tercatat secara resmi di sistem keuangan kampus.

Selama lima tahun, total uang yang terkumpul mencapai sekitar Rp2,4 miliar. Uangnya dikumpulin lewat bendahara angkatan, lalu diserahkan ke Sri Maryani, dan dicatat cuma di buku catatan bersampul batik kuning—bukan lewat jalur resmi.

Dari uang itu, Taufik diduga memakai sebagian buat keperluan pribadi, nilainya sekitar Rp177 juta. Gila, kan?

Doktrin "Senior Nggak Pernah Salah"

Baca Juga: Dilaporin Ahmad Dhani ke KPAI, Psikolog Lita Gading Malah Ketawa: 'Jangan Takut Kalau Benar'

Selain pungli, kasus ini juga ngebongkar praktik senioritas dan perundungan. Zara Yupita, dokter senior sekaligus pembimbing Aulia, diduga sering memberikan tekanan psikologis. Salah satu bentuknya: menyuruh Aulia nyediain makanan buat senior di luar jam tugas, bahkan membayar joki buat ngerjain tugas senior.

Gaya kepemimpinannya juga dipenuhi "doktrin" kayak: "Senior nggak pernah salah," "Dokter junior nggak boleh ngeluh," "Yang boleh enak cuma senior aja."

Seremnya lagi, kalau ada yang berani menolak aturan nggak resmi itu, mereka bisa "dibekukan" secara akademik alias disabotase proses belajarnya. Bayangin aja tekanan psikologisnya.

Gimana Respons Pihak Kampus, RS, dan Pemerintah?

Dalam sidang, Dekan Fakultas Kedokteran Undip, Yan Wisnu, mengaku nggak tahu soal pungli yang terjadi. Padahal, katanya biaya pendidikan PPDS seharusnya nggak ada pungutan tambahan, kecuali biaya ujian yang resmi dari kolegium.

Dari pihak RSUP dr. Kariadi, Direktur Pelayanan Operasional, Mahabara, bilang kalau residen PPDS bukan pegawai rumah sakit, jadi nggak terikat jam kerja, tapi juga nggak seharusnya disuruh kerja paksa seperti yang dialami Aulia dan teman-temannya.

Kalau dari Kementerian Kesehatan, saat ini mereka lagi menghentikan sementara aktivitas PPDS Anestesi di RSUP dr. Kariadi dan berjanjinakan melakukan evaluasi besar-besaran terhadap sistem PPDS di seluruh Indonesia. Tim Inspektorat Kemenkes juga sempat kesulitan menginvestigasi karena diduga ada intervensi dari Taufik sebagai Kaprodi waktu itu. Mahasiswa jadi takut bicara dan nggak kooperatif.

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Kasus ini bukan cuma soal pungli atau bullying, tapi juga mengungkap masalah sistemik dalam pendidikan dokter spesialis di Indonesia—kurangnya transparansi, lemahnya pengawasan, serta budaya senioritas yang kelewat batas.

Tragedi yang menimpa dr. Aulia Risma seharusnya jadi titik balik. Kita butuh sistem pendidikan kedokteran yang lebih manusiawi, adil, dan transparan. Residen bukan robot. Mereka calon dokter spesialis yang juga punya hak buat belajar tanpa tekanan psikis, apalagi beban biaya yang nggak jelas arahnya.

Semoga kasus ini bisa jadi pelajaran penting buat semua pihak—baik institusi pendidikan, rumah sakit, hingga pemerintah. Jangan sampai ada Aulia-Aulia lain yang jadi korban. Karena pendidikan seharusnya membentuk, bukan menghancurkan.

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI
Di beberapa desa di Indonesia, justru dari aksi konservasi malah lahir ratusan peluang kerja baru....
news | 09:43 WIB
Kisah-kisah dari mereka yang telah memulai perjalanan bersama BSya ngasih gambaran jelas tentang bagaimana sebuah aplika...
news | 07:38 WIB
Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, generasi muda nggak cuma cari sukses finansial, tapi juga makna dan keseimbangan...
news | 07:21 WIB
Membuka rekening bank baru sering kali diasosiasikan dengan proses yang rumit dan memakan waktu. BSya hadir untuk memata...
news | 09:21 WIB
Visi Direktur BCA Syariah, Ina Widjaja, secara konsisten menekankan pentingnya BSya sebagai "teman terdekat dan terperca...
news | 09:13 WIB
BSya dirancang untuk menjadi solusi digital yang tidak hanya memudahkan transaksi finansial, tapi juga mendukung pemenuh...
news | 09:07 WIB
Keberhasilan BSya dalam menjawab tuntutan ini tervalidasi oleh data pertumbuhan yang kuat....
news | 09:00 WIB
BCA Syariah memperkenalkan BSya, sebuah aplikasi mobile banking yang dirancang dengan filosofi mendalam: "Menemani Langk...
news | 08:42 WIB
Ada cerita di setiap helai benang yang menyatu menjadi sebuah kain megah. Tenun merepresentasikan warisan budaya, identi...
news | 16:45 WIB
Maya lahir spesial. Dia memiliki kekurangan dalam mendengar dan berbicara. Tapi remaja berusia 17 tahun asal Temanggung ...
news | 17:12 WIB