Senin, 25 Maret 2019

Salut, 4 Negara Ini Punya Cara Berbeda dan Unik Atasi Sampah Plastik

Dari taman bermain hingga dijadikan bahan membuat aspal

Angga Roni Priambodo | Arendya Nariswari
Ilustrasi tempat sampah. (Unsplash/Pawel Czerwinski)
Ilustrasi tempat sampah. (Unsplash/Pawel Czerwinski)

Guideku.com - Masih ingatkah kamu dengan paus sperma yang ditemukan mati di Wakatobi?

Betapa terkejutnya dunia dengan keadaan perut paus sprema yang penuh dengan sampah tersebut.

Miris dan tentunya membuat masyarakat dunia tak hanya Indonesia juga ikut sedih karena peristiwa ini.

Bicara soal sampah, sejumlah negara ini punya cara tersendiri untuk mengurangi dan mencegahnya masuk ke laut.

Di mana sajakah? Yuk intip Info lengkap yang telah dirangkum Guideku.com dari laman Blue Ridge Outdoors dan Goodnet berikut ini.


1. Australia

Australia punya cara untuk mencegah sampah masuk ke laut. Pemerintah memutuskan untuk memasang jaring pada sejumlah pipa drainase.

FYI, setelah dicoba jaring-jaring ini berhasil 815 pound sampah lho. Wih, keren abis ya?

Kini pemerintah membuat rencana untuk menambah jumlah pemasangan jaring pada pipa drainase.

Ilustrasi tempat pembuangan sampah. (Unsplash/designecologist)
Ilustrasi tempat pembuangan sampah. (Unsplash/designecologist)

 

2. Uganda

Lain halnya dengan Uganda, negara ini punya cara menyenangkan untuk mengelola sampah.

Ya, dengan bantuan Eco Art Uganda terciptalah Amusement Park.

Di Amusement Park ini terdapat banyak wahana bermain anak yang terbuat dari daur ulang sampah.

Tak cuma menyenangkan, langkah ini diambil untuk memberi edukasi mengelola sampah sejak dini kepada anak-anak.

Ilustrasi sampah botol plastik. (Unsplash)
Ilustrasi sampah botol plastik. (Unsplash)

 

3. India

Unik dan kreatif, profesor kimia bernama Rajagopalan Vasudevan punya cara untuk mengubah sampah plastik menjadi aspal.

Selain bermanfaat memecahkan permasalahan pencemaran lingkungan, metode ini terbilang lebih hemat daripada menggunakan bahan aspal biasa.

4. Hong Kong

Dulunya tempat ini merupakan sebuah tempat pembuangan akhir bernama Sai Tso Wan yang menampung kurang lebih 1.6 juta ton sampah.

Sempat ditutup, tahun 2004 tempat ini kembali dibuka dan menjadi taman bermain.

Segala macam jenis wahana di sini didukung oleh energi yang asalnya dari gas metana.

Nah, gas metana ini sendiri merupakan hasil pembusukan dari sampah. Wah, cukup solutif ya?

Terkait

Terkini