Bikin Hutan Imitasi, Pemerintah Singapura Tuai Kecaman

Ketika uang di atas segalanya.

Galih Priatmojo | Aditya Prasanda
Kamis, 10 Januari 2019 | 15:15 WIB
Mandai (Wikimedia Alan Tank Enghoe)

Mandai (Wikimedia Alan Tank Enghoe)

Guideku.com - Langkah pemerintah Singapura membangun zona ekowisata berupa hutan imitasi atau buatan menuai kecaman dari kelompok pecinta lingkungan setempat.

Hutan imitasi yang direncanakan akan dibangun di kawasan Mandai ini diproyeksikan akan memiliki taman burung, taman hutan hujan hingga komplek resor berkapasitas 400 orang.

Seperti diketahui, Mandai, kawasan desa dan persawahan ini bersebelahan dengan cagar alam dilindungi yang hari ini difungsikan sebagai jalur akses menuju Singapore Zoo dan Night Safari.

Di Mandai, tak jarang rusa, trenggiling, macan tutul, dan kawanan satwa dilindungi lainnya berlalu lalang.

Dan di antara ekosistem alami tersebut, proyek pembangunan hutan buatan dicanangkan.

Sembilan area kandang burung akan dibangun menggantikan yang lama. Lalu ada pula taman hutan hujan yang dilintasi jalan setapak di antara rimbunnya vegetasi hijau. Terakhir, dibangun pula penginapan yang didukung jaringan hotel terkemuka Singapura, Banyan Tree.

(Wikimedia Fxxu)
(Wikimedia Fxxu)

 

Proyek yang didanai investor Temasek bekerja sama dengan pemerintah Singapura ini dimulai tahun 2017 lalu dan diperkirakan akan selesai pada tahun 2023.

Saat ini proses pembangunan tengah gencar berjalan.

Baca Juga: Miris, Orangutan Ini Berusaha Lawan Ekskavator yang Hancurkan Rumahnya

Kecaman kelompok pecinta lingkungan bukan tanpa sebab, mereka khawatir alat-alat berat akan mengancam keselamatan flora dan fauna di Mandai. Belum lagi tindakan semena-mena yang dapat dilakukan para pekerja proyek tanpa pengawasan yang ketat.

Untuk itu, kelompok pecinta lingkungan berharap pemerintah Singapura sebaliknya mempromosikan habitat alami, bukan malah menghancurkannya demi membangun zona ekowisata buatan.

''Menurut saya, ide mengganti habitat alami dengan zona buatan kurang tepat. Sangat disayangkan jika kesempatan menghasilkan uang dianggap lebih penting ketimbang melestarikan keanekaragaman hayati,'' ujar Subaraj Rajathurai seperti dikutip Guideku.com dari AFP.

Menanggapi kecaman tersebut, pihak Mandai Park Holdings, perusahaan yang memimpin jalannya proyek pembangunan zona ekowisata Singapura mengklaim telah melakukan segala cara untuk mencegah kematian hewan selama pembangunan berlangsung.

Pagar besi dan rambu-rambu peringatan perlintasan hewan bagi para pengendara dipasang di pepohonan.

Rencananya, sebuah jembatan permanen yang ditutupi rimbun semak dan dedaunan menjalar dibangun agar memungkinkan hewan-hewan menyeberang selama proses pembangunan.

"Kami bekerja bersama komunitas pecinta lingkungan untuk mencari cara melindungi hewan-hewan ini. Mungkin jauh dari sempurna namun kami berusaha semaksimal mungkin," kilah Mike Barclay, CEO Mandai Park Holdings.

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI
Di tengah ancaman krisis iklim dan kerusakan alam, banyak orang mulai mempertanyakan bagaimana cara menikmati liburan ta...
travel | 13:18 WIB
Kasus penembakan tersebut menjadi menjadi sorotan terhadap WNA Australia....
travel | 12:13 WIB
Dua orang pendaki tertangkap pada 15 Juni 2025....
travel | 12:50 WIB
Penetapan Dataran Tinggi Dieng sebagai geopark nasional disambut dengan harapan besar, terutama dari para pelaku wisata ...
travel | 11:00 WIB
Aplikasi yang baik akan membantu Anda menghemat waktu dan uang, serta meminimalkan potensi masalah selama proses pemesan...
travel | 10:00 WIB
Diketahui konten itu diunggah oleh akun media sosial TikTok....
travel | 11:15 WIB
Namun Amir meminta Pemda DIY maupun Pemkab Gunungkidul harus memperhatikan jalur-jalur alternatif....
travel | 10:00 WIB
Angela Gilsha mengaku sempat datang ke sana....
travel | 13:22 WIB
Terdapat kenaikan sebesar 8,92 persen dari total kunjungan sebanyak 3.223.229 kunjungan....
travel | 14:27 WIB
Menurutnya peringatan perjalanan dari Australia ini adalah sebuah risiko, namun wisatawan manapun akan aman di Bali jika...
travel | 14:09 WIB