Senin, 19 Agustus 2019

Diboikot, 15 Maskapai Berbagai Negara Merumahkan Boeing 737 MAX 8

Penyelidikan masih berlangsung, sembari Boeing 737 MAX 8 dilarang mengudara.

Dany Garjito | Aditya Prasanda
Ilustrasi pesawat (Pixabay)
Ilustrasi pesawat (Pixabay)

Guideku.com - Menyusul tragedi kecelakaan maut pesawat Ethiopian Airlines yang menewaskan 157 penumpang dan awak pesawat, sejumlah negara melarang pesawat bertipe Boeing 737 MAX 8 mengudara.

Sebagai catatan, kurang dari enam bulan sebelum tragedi nahas tersebut, pesawat Lion Air dengan tipe yang sama juga terlibat kecelakaan maut yang menewaskan 189 orang pada medio akhir 2018 lalu.

Tak heran, kecurigaan semakin menguat terkait standar operasional Boeing 737 MAX 8 yang meresahkan dunia penerbangan dalam beberapa tahun terakhir.

Pesawat Lion Air jenis Boeing 737 MAX 8 di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. [Dok Lion Air Group]Banyak perahu cepat menuju lokasi.
Pesawat Lion Air jenis Boeing 737 MAX 8 di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. [Dok Lion Air Group]

 

Pemerintah Indonesia termasuk satu di antara deretan negara yang melarang pesawat Boeing 737 MAX 8 mengudara.

Melalui Kementerian Perhubungan, sanksi tersebut mengharuskan satu pesawat Garuda Indonesia dan 11 pesawat milik Lion Air dengan tipe Boeing 737 MAX 8 dirumahkan.

Sementara beberapa negara lain seperti Australia, Singapura dan Inggris bahkan melarang pesawat tipe Boeing 737 MAX 8 masuk dan keluar dari wilayah udara mereka.

Tak heran, banyak maskapai yang akhirnya mulai mengandangkan pesawat tipe Boeing 737 MAX 8 milik mereka, 15 di antaranya Guideku.com catat sebagai berikut.

Indonesia

1. Garuda Indonesia

2. Lion Air

Thailand

3. Thai Lion Air

China
4. China Airlines

5. Shandong Airlines

6. China Eastern

7. China Southern

Singapura

8. SilkAir

Etiophia

9. Etiophian Airlines

Afrika Utara

10. Comair Airways

India

11. SpiceJet

Argentina

12. Aerolineas Argentinas

Mexico

13. Aeromexico

Cayman

14. Cayman Airways

Korea Utara

15. Easter Jet

Terkait

Terkini