Rabu, 27 Maret 2019

Kampung Cinta, Tempat Gadis Belia Jajakan Gelora Asmara Satu Malam

Gadis-gadis belia direstui oleh orangtuanya untuk menjajakan diri di rumah sendiri.

Dany Garjito
Ilustrasi wanita tuna susila. (Unsplash/Hadis Safari)
Ilustrasi wanita tuna susila. (Unsplash/Hadis Safari)

Masa lalunya yang kelam menuntunnya ke lembah hitam.

"Jadi ada teman yang mengajak, dia bilang daripada kamu sering 'main' tak dapat apa-apa, mendingan ikut aku kerja di diskotik dapat duit," kenang Fifi.

'Bebek' Anggota Dewan

"Bebek", begitulah para PSK di Kampung Cinta biasa dijuluki oleh warga, pengunjung, maupun mucikari mereka.

Toni, mucikari prostitusi rumahan Kampung Cinta, mengakui banyak memelihara "bebek" untuk ditawarkan kepada orang-orang luar daerah, terutama dari wilayah sekitar seperti Kota Bandung sampai Jakarta, seperti dikutip GuideKu.com dari Suara.com.

"Pelanggan saya macam-macam. Ada pengusaha, orang angkatan (militer), anggota dewan, bahkan pejabat," ujar Toni.

Untuk sekali transaksi, PSK-nya ditarif Rp 500 ribu. Dari tarif itu, Toni mendapatkan Rp 100 ribu. Tapi kekinian, Toni lebih berhati-hati memasarkan para PSK-nya.

Dahulu, Kampung Cinta sangat terbuka dengan siapa saja yang datang. Artinya, mereka secara blak-blakan menerima lelaki pria hidung belang.

Tapi kini, mucikari dan PSK di Kampung Cinta agak tertutup. Mereka tak mau terlihat mencolok ada transaksi prostitusi rumahan di kampung itu. Sebab mereka mendapat teguran dari pemerintah.

"Bupati sekarang orang PKS, mas, jadi kami sudah kena teguran. Bupatinya sekarang punya program salat Subuh di masjid-masjid desa. Setiap hari pindah-pindah desa. Di kampung ini, bupati sudah pernah salat Subuh."

Fifi (nama samaran), seorang PSK di Kampung Cinta. [Suara.com/Erick Tanjung]
Fifi (nama samaran), seorang PSK di Kampung Cinta. [Suara.com/Erick Tanjung]

Kemiskinan

Makin ketatnya pengawasan pemerintah terhadap Kampung Cinta, membuat banyak PSK memilih untuk pergi keluar meski tetap berada di dunia tersebut.

Seperti Ani, panggilan akrab wanita ini dalam dunia gemerlap prostitusi. Ia memilih keluar dari Kampung Cinta meski tetap menjadi PSK. Ia menjajakan tubuhnya di sebuah lokalisasi. 

Lokalisasi ini terletak di pemukiman warga yang jaraknya tak jauh dari Pelabuhan Baru Patimban, Subang. Sekitar 1 jam perjalanan jaraknya dari Kampung Cinta.

Lampu kerlap-kerlip menghiasi sejumlah rumah, musik dangdut dan dentumannya bersaing dengan debur ombak.

Siang hari, kampung ini layaknya pemukiman warga biasa. Namun di malam hari, sejumlah rumah disulap menjadi tempat hiburan malam.

Wanita 30 tahun ini menjadi PSK untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya di kampung. Ia sudah satu tahun jadi PSK.

Terkait

Terkini