Selasa, 19 November 2019

Pengalaman Liburan Sambil Belajar Budaya dan Keberagaman di Taipei

Taipei tengah gencar mempromosikan wisata halal dan Suara.com diajak untuk menikmati tempat wisata di sana.

Dany Garjito | Arendya Nariswari
Shilin Night Market. (Arendya/Suara)
Shilin Night Market. (Arendya/Suara)

Guideku.com - Hari kedua, Sabtu (8/6/19), Suara.com berada di Taipei, Taiwan untuk mengenal lebih jauh lagi berbagai budaya serta kulinernya yang menarik.

Di pagi hari kami telah disambut hangat oleh beberapa staf The Howard Plaza Hotel.

Kami diajak berkeliling hotel sambil diperkenalkan beberapa fasilitas dan destinasi ramah bagi umat Muslim di sini.

Menariknya, The Howard Plaza Hotel ini memiliki dapur khusus untuk memasak makanan halal.

Alat makan di The Howard Plaza Hotel. (Arendya/Suara)
Alat makan di The Howard Plaza Hotel. (Arendya/Suara)

Bukan hanya bahan makanannya saja yang dipilih dengan cermat melainkan alat memasak serta piring dan sendok.

Terdapat logo halal di setiap sudut piring, cangkir, teko hingga tempat pencucian.

Hal ini tentunya menjadi semakin meyakinkan kami untuk menyantap berbagai makanan halal di The Howard Plaza.

Usai berkeliling sebentar, kami melangkah menuju meeting room The Howard Hotel.

Di ruangan ini kami menerima sambutan baik dari pihak Dinas Pariwisata Taipei dan The Howard Hotel.

Sambutan dari Departemen Pariwisata Taipei. (Arendya/Suara)
Sambutan dari Departemen Pariwisata Taipei. (Arendya/Suara)

Pada awal acara, Yi-Ting Liu selaku perwakilan Dinas Pariwisata Taipei menyampaikan sambutannya dan memperkenalkan sedikit bahwa Taiwan kini tengah mempromosikan wisata halal.

Beliau mengatakan bahwa beberapa tahun terakhir, banyak wisatawan Muslim yang datang ke Taiwan.

Tak hanya sampai di situ saja, kami juga sempat menyaksikan keseruan Dinas Pariwisata dan YouTuber asal Indonesia yakni Anak Jajan dan Yusi Fadilla berkolaborasi membuat bakchang.

YouTuber bersama Departemen Pariwisata Taipei dan manajer The Howard Plaza Hotel membuat bakchang.
YouTuber bersama Departemen Pariwisata Taipei dan manajer The Howard Plaza Hotel membuat bakchang.

Usai acara penyambutan, kami bergegas menuju salah satu toko kue yang terbilang sudah cukup tua di Taipei.

Ini dia Toko Kuo Yuan Ye yang lokasinya berada di Wenlin Road tak jauh dari Shilin Night Market.

Di sini kami tak cuma diajak melihat-lihat melainkan ikut mencoba membuat kue nanas atau yang biasa dikenal dengan nama lain nastar.

Adonan telah disiapkan di atas meja, begitu pula dengan bahan-bahan membuat kue nanas.

Sekilas tampak mudah, namun ternyata kami sedikit kesulitan ketika mencoba memasukkan isian nanas ke dalam adonan kue.

Meski tidak sempurna bentuknya, kami berharap rasanya tetap akan terasa lezat.

Sambil menunggu kue terpanggang dengan sempurna, kami berkeliling Kuo Yuan Ye Museum of Cake and Pastry.

Museum kue. (Arendya/Suara)
Museum kue Kuo Yuan Ye. (Arendya/Suara)

Nah, di sinilah kami diperkenalkan beberapa bagian dan sejarah berdirinya toko kue Kuo Yuan Ye tersebut.

Setelah puas berjalan-jalan keliling museum, kami kembali melihat kue nanas yang sebelumnya telah dipanggang.

Alih alih bentuknya indah, kami sempat ingin tertawa ketika melihat bentuk kue nanas buatan kami yang terlihat belepotan.

Namun, betapa terkejutnya kami saat pertama kali menggigitnya.

Nanas yang telah kami campurkan di adonan tadi terasa begitu lembut dan pecah sejak gigitan pertama.

Kami juga sempat diajari bagaimana membungkus kue nanas yang rapih dan menarik.

Setelah belajar membuat kue nanas, kami diajak ke sebuah tempat yang tak kalah menarik.

Di wilayah Tamsui Old Street , kami diperlihatkan bagaimana cara menyeduh teh ala Taiwan yang begitu unik.

Sebelum minum dan menyaksikan cara membuat teh, kami dipersilahkan untuk berganti baju cheongsam atau pakaian tradisional China.

Pada sesi pertama, kami diperlihatkan cara membuat teh berjenis Cing Suen.

Ketika membuat, sangat disarankan untuk tidak memasukan terlalu banyak daun ke dalam air.

Kunci kenikmatan teh tersebut berada di atribut atau alat serta teknik pembuatannya.

Bukan hanya air yang harus mendidih, teko dan gelas untuk membuat teh wajib dihangatkan terlebih dahulu.

Teh yang telah mengalami proses fermentasi 30 persen ini aromanya begitu menyegarkan dan membuat pikiran menjadi lebih rileks.

Selanjutnya ada teh berjenis Oolong nomor 18.

Jika Teh Cing Suen nikmat diminum selagi hangat, lain halnya dengan Oolong nomor 18.

Ya, Oolong nomor 18 ini justru lebih nikmat jika diminum dalam keadaan dingin atau menggunakan es.

Oolong ini dibuat dengan teknik yang mirip dengan cara membuat kopi yakni Fleisch Drip Tea.

Rasa yang dihasilkan Oolong nomor 18 ini jauh lebih strong dibandingkan Cing Suen.

Trik membuat teh dan sensasi mengenakan cheongsam ini tentu sangat berkesan bagi kami.

Jalan-jalan di Taiwan, tak lengkap rasanya jika belum mampie ke kuil.

Pada kesempatan kali ini, kami mampir ke Longshan Temple.

Kuil Longshan ini dibangun pada tahun 1738 dan termasuk salah satu yang tertua di Taiwan.

Kuil Longshan. (Arendya/Suara)
Kuil Longshan. (Arendya/Suara)

Tempat ini dulunya memang sengaja dibangun untuk para pendatang baru dari China dan sempat digunakan oleh Jepang sebagai gudang senjata.

Namun sayangnya ketika Perang Dunia kedua terjadi, Longshan Temple sempat mengalami kerusakan dan selesai diperbaiki pada tahun 1919.

Kami melihat banyak sekali wisatawan dan warga lokal yang berkunjung ke Longshan Temple pada hari itu.

Sebagian besar membawa banyak persembahan untuk Dewa, seperti buah-buahan, bunga serta makanan.

Ada pula yang berdoa dan mengajukan pertanyaan kepada Dewa, berharap nasib baik serta keberuntungan.

Kuil ini sendiri memiliki Dewi Matzu yang menjadi sesembahan utama di Longshan Temple.

Dewi Matzu sendiri dikenal sebagai pelindung laut, jadi banyak yang meminta perlindungan kepadanya dari marabahaya seperti tsunami dan gelombang besar.

Ukiran di Longshan Temple ini begitu unik dengan ornamen naga dan ukiran khasnya.

Tidak sedikit wisatawan yang berfoto-foto di Longshan Temple ini.

Belum lagi di bagian depan terdapat air terjun buatan berukuran kecil yang begitu memikat untuk dijadikan spot berfoto.

Menjelang petang, kami melanjutkan perjalanan menuju Shilin Night Market.

Berhubung libur panjang di Taiwan, suasana Shilin Night Market pada waktu itu begitu ramai.

Shilin Night Market. (Arendya/Suara)
Shilin Night Market. (Arendya/Suara)

Shilin ini adalah pasar malamnya Taipei yang begitu populer di kalangan wisatawan.

Bukan hanya menjual makanan dan minuman, Shilin Night Market dikenal memiliki banyak atraksi permainan di dalamnya.

Untuk atraksinya sendiri bermacam-macam, mulai dari memecahkan balon hingga melempar koin.

Bagi yang berhasil menang, biasanya mereka akan mendapatkan berbagai macam boneka berbentuk lucu.

Permainan-permainan ini bisa Anda coba saat berkunjung ke Shilin Night Market dengan biaya mulai dari 10 dolar baru Taiwan, atau senilai Rp 4.000.

Di Shilin Night Market, kami juga sempat mencoba berbagai jajanan khas Taiwan, salah satunya stinky tofu.

Seperti namanya, tahu ini memang mengeluarkan bau yang aneh ketika digigit.

Namun jangan salah, meski bau, stinky tofu ini memiliki tekstur renyah di luar dan rasa lembut di bagian dalamnya.

Puas menjelajah kuliner, kami melanjutkan perjalanan dan membeli beberapa suvenir untuk oleh-oleh di Shilin Night Market.

Harga-harga suvenir di Shilin Night Market ini terbilang sedikit lebih murah dibandingkan Ximending.

Jam menunjukkan pukul 22.00 waktu Taiwan, kami bergegas kembali ke hotel karena keesokan paginya kami harus menghadiri puncak acara perayaan Hari Idul Fitri di Taman Daan.

Dengan menggunakan MRT kami melesat menuju stasiun Zhongxiao Fuxing yang lokasinya tak jauh dari The Howard Plaza Hotel.

Begitulah kisah perjalanan kami di Taiwan pada hari kedua.

Nantikan cerita seru Suara.com di Taiwan pada berikutnya ya.

Terkait

Terkini