Minggu, 05 April 2020

Sempat Dikarantina di Natuna, Kisah Warga Sleman Sekembali dari Wuhan

Nugraha mesti menjalani karantina selama dua pekan setelah dijemput dari Wuhan, China.

Rima Sekarani Imamun Nissa
cloud_download Baca offline
Ilustrasi penyebaran virus corona. (Pixabay/Gerd Altmann)
Ilustrasi penyebaran virus corona. (Pixabay/Gerd Altmann)

Guideku.com - Kepulangan Warga Negara Indonesia (WNI) dari Wuhan, China ke kampung halamannya memberikan rasa lega tersendiri. Setelah menjalani proses evakuasi, observasi hingga karantina selama dua minggu, salah seorang WNI asal Sleman, DI Yogyakarta, Nugraha Krisdiyanta (46) membeberkan pengalamannya saat virus corona mewabah di Negeri Tirai Bambu kala itu.

Sebelumnya diberitakan, pemerintah Republik Indonesia (RI) telah menjemput sebanyak 237 WNI yang berada di Wuhan, China. Hal tersebut menyusul situasi gawat di Wuhan usai merebaknya virus Corona yang menyebabkan ribuan warga China meninggal. Setelah dilakukan penjemputan ratusan WNI itu kemudian menjalani serangkaian observasi dan karantina di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau sejak 1 Februari dan berakhir pada 14 Februari lalu.

Setelah karantina selama dua pekan, pemerintah memastikan 237 WNI tersebut sehat dan tak terjangkit coronavirus. Jadi pada Sabtu (15/2/2020) akhir pekan kemarin, WNI yang disebut sebagai peserta observasi ini dipulangkan ke daerah masing-masing.

"Rasanya sudah bahagia bisa kembali ke rumah (Sleman). Kemarin (Sabtu-red) dari Halim Perdana Kusuma, Jakarta ke Bandara Adisutjipto lancar dan saya langsung kembali ke rumah di Maguwoharjo, Sleman," kata Nugraha saat dihubungi SuaraJogja.id---jaringan GuideKu.com, Minggu (16/2/2020) kemarin.

Nugraha membeberkan bahwa keadaan di tempatnya menempuh pendidikan tidaklah mencekam seperti apa yang diberitakan media. Ayah dua anak yang menjadi mahasiswa di Central China Normal University, Wuhan, Provinsi Hubei, China ini mengaku keseharian dia dan beberapa warga Wuhan berjalan seperti biasa kala virus tersebut mewabah.

"Sebenernya di Wuhan saat itu kan memasuki liburan musim dingin dan liburan Imlek. Nah mahasiswa juga memilih pulang kembali ke rumahnya masing-masing. Termasuk warga China pulang ke desanya ketika Imlek tiba. Jadi kami beraktivitas seperti biasa, namun pemerintah setempat menekankan kepada warga termasuk mahasiswa untuk menggunakan masker saat keluar rumah," jelas dia.

Mengemban Misi Kemanusiaan, Semua Awak Pesawat Batik Air Dikarantina. (Dok. Batik Air)
Mengemban Misi Kemanusiaan, Semua Awak Pesawat Batik Air Dikarantina. (Dok. Batik Air)

Nugraha menceritakan bahwa pemerintah China juga menganjurkan warga untuk tak berkumpul di kerumunan yang padat. Hal itu juga untuk meminimalisasi penyebaran virus.

"Terus terang pemerintah setempat tak memberi larangan khusus kepada warganya. Apalagi sampai melarang keluar dari rumah. Hanya saja dianjurkan berada di dalam rumah ketika tidak ada urusan yang penting. Kalaupun ingin keluar pemerintah juga mengimbau untuk tak mendatangi tempat yang banyak kerumunan masyarakat," aku Nugraha.

Ia melanjutkan, setelah maraknya penyebaran virus Corona, mahasiswa Indonesia yang berada di asrama kampus selalu di pantau oleh petugas. Namun petugas sendiri merupakan mahasiswa lain yang ditunjuk dosen untuk melaporkan aktivitas dan suhu tubuhnya.

"Memang petugas khusus (kesehatan) tidak ada, petugas sendiri adalah mahasiswa di kampus kami yang tiap hari meminta laporan terkait suhu tubuh kami. Jadi petugas khusus dipusatkan di rumah sakit yang ada di Wuhan," ucapnya.

Meski cuma melaporkan suhu tubuh kepada petugas mahasiswa, Nugraha mengatakan petugas juga akan memandu mahasiswa yang merasa sakit untuk dibawa ke RS kampus. Jika butuh penanganan lebih lanjut, petugas akan membawa ke rumah sakit yang lebih besar.

"Gejala yang dialami orang ketika flu, batuk, merasa suhu tubuh meningkat, hal-hal itu yang perlu dilaporkan. Sehingga petugas mahasiswa ini yang mengarahkan kami untuk diberi penanganan," katanya.

Ditanyai apakah keadaan rumah sakit penuh kepanikan ketika virus tersebut menyebar di Wuhan, Nugraha menjelaskan tidak semua rumah sakit terjadi.

Ilustrasi virus corona. (Pixabay/amrothman)
Ilustrasi virus corona. (Pixabay/amrothman)

"Saya tidak bisa mengonfirmasi apakah seluruh rumah sakit di China maupun Wuhan penuh kepanikan atau tidak. Tapi asrama kami yang dekat dengan rumah sakit besar tidak terlihat kepanikan itu. Bahkan antrean yang disebut sampai mengular ke jalan juga tidak ada. Semuanya normal seperti keadaan pada umumnya," jelas Nugraha.

Disinggung apakah benar stok makanan di Wuhan kehabisan karena efek penyebaran virus tersebut, Nugraha membantah. Masyarakat masih mendapat stok makanan walau harus berjalan sedikit jauh dari rumah atau asrama yang mereka tinggali.

"Stok makanan masih tersedia sebenarnya. Jadi kalaupun di sekitar kampus toko tidak menjual stok, masih ada supermarket besar yang menyedia banyak makanan," kata pria yang juga punya rumah di kawasan Godean, Sleman itu.

"Kami diperbolehkan keluar, bahkan berjalan-jalan hingga 1-2 kilometer tak masalah, namun harus menggunakan masker. Nah sesampainnya di rumah atau tempat tinggal kami dianjurkan mencuci tangan dengan sabun yang diberi secara gratis oleh kampus," kata dia.

Nugraha menjelaskan, pada 23 Januari 2020, pemerintah setempat membatasi warga keluar dari kota Wuhan. Selama 10 hari hingga 1 Februari 2020 Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di China terus memantau mereka selama terjadi kasus virus tersebut melalui anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT) cabang Wuhan.

"Jadi pemerintah (China) menutup (akses keluar masuk keluar kota dan negara lain) pada 23 Januari, nah pada 1 Februari kami mulai dievakuasi pemerintah Indonesia untuk dipulangkan. Jadi memang tidak tiap hari KBRI menjenguk kami, tapi pantauan selalu mereka lakukan hingga kami benar-benar keluar dari Wuhan," terang dia.

Setelah dievakuasi dari Wuhan, sebanyak 237 WNI termasuk Nugraha dan rekan satu asramanya yang berasal dari Indonesia dijemput pemerintah menggunakan pesawat boeing 737. Semuanya diantar menuju Batam untuk transit dan selanjutnya dikirim ke Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau untuk menjalani observasi selama dua pekan hingga 14 Februari 2020.

"Jadi di saat turun di Batam itu kami disemprot desinfektan. Setelah itu baru kami terbang lagi ke Natuna dan langsung masuk di ruang observasi. Jadi kami dilakukan pemantauan hingga dua pekan," jelasnya.

Saat ini pria yang juga sebagai ketua RT 14, Dusun Banjeng, itu mengaku telah berkumpul dengan keluarga. Pihaknya juga merasa sehat dan tak ada kekhawatiran keluarga terkait kesehatannya, apalagi virus Corona. (*Muhammad Ilham Baktora)

Terkait

Terkini