Selasa, 26 Mei 2020

Merespon Pandemi, Sekelumit Curhatan Pelaku Bisnis Pariwisata di Yogyakarta

Pandemi Covid-19 membuat redup bisnis wisata Yogyakarta.

Silfa Humairah | Fitri Asta Pramesti
cloud_download Baca offline
Potret Sepinya Kota Yogyakarta Melawan Virus Corona. (Guideku/Arendya)
Potret Sepinya Kota Yogyakarta Melawan Virus Corona. (Guideku/Arendya)

Guideku.com - Imbas pandemi di Yogyakarta begitu terasa. Maklum saja, dikenal sebagai salah satu kota destinasi liburan, Jogja rasa-rasanya tak pernah sepi. Wisatawan datang silih berganti menyambangi deretan tempat wisata yang ada di Jogja.

Semenjak wabah merebak, Malioboro jadi kosong melompong, Tugu Jogja tak lagi penuh orang berfoto, hingga sudut-sudut kota yang tak lagi ramai orang nongkrong. Bisnis pariwisata di kota gudeg pun kini redup.

Merespon soal redupnya bisnis wisata di Jogja, salah satu pelaku bisnis wisata Goa Pindul, Arif Sulistyo dalam bincang-bincang The Sambat Show, Selasa (7/4), menyebut pandemi Covid-19 ini memberikan dampak terparah di industri wisata Jogja, jika dibandingkan dengan bencana yang pernah terjadi sebelunya.

"Ini krisis paling parah, hampir mau dua bulan (Goa Pindul) ditutup," kata Arif. Pun ia cukup khawatir dengan keadaan ini lantaran sektor pariwisata membutuhkan waktu yang lama untuk bisa kembali bangkit, "paling tidak butuh 6 sampai 1 tahun untuk kembali normal," sambungnya.

Seperti tempat wisata lain yang ada di Jogja, Goa Pindul juga mengalami penutupan sementara. Disebutkan Arif, destinasi wisata yang ada di Gunung Kidul ini ditutup pada minggu ke empat bulan Maret. Hal ini pun menimbulkan kerugian besar, terutama hilangnya mata pencaharian sebagian pelaku bisnis wisata.

"Di tempat saya ada 10 pokdarwis, satu pokdarwis paling tidak ada 100 orang. Ya kira-kira ada 1000 orang lebih yang menganggur di rumah karena penutupan ini," beber Arif.

Goa Pindul. (Instagram.com/goapindul)
Goa Pindul. (Instagram.com/goapindul)

Meski sebagian tetap bisa bertahan dengan menggarap lahan atau punya pekerjaan sampingan, namun tak sedikit yang penghasilannya hanya bergantung di bisnis wisata Goa Pindul ini.

Terkait periode penutupan Goa Pindul, jika sesuai rencana, akan dibuka kembali pada 14 April mendatang, meskipun begitu Arif tak berharap banyak mengingat kondisi seperti saat ini.

"Untuk batas waktu penutupan hingga 14 April, tapi belum ada evaluasi lagi. Kalaupun bisa dibuka tapi tidak ada tamu ya sama aja," imbuh dia.

Tidak banyak yang bisa Arif perbuat mengingat pengelolaan Goa Pindul saat ini tengah dipegang oleh pemerintah. Soal upaya pemerintah, ia menyebut rencana akan ada rembuk bersama antara pelaku bisnis dan pemerintah terkait penutupan wisata ini.

Hal yang sama juga dirasakan oleh pelaku bisnis perhotelan. Tak ada wisatawan, hotel-hotel di Jogja pun gelagapan. Khairul Anwar selaku Marcomm Manager Royal Ambarrukmo di kesempatan yang sama, juga menuturkan pandemi ini membawa dampak kerugian yang besar, bahkan dari hulu ke hilir di bidang perhotelan.

"Semua lini yang berhubungan dengan hotel kena imbasnya, mulai dari vendor hingga bisnis produk makanan yang jadi langganan hotel," ujar pria yang karib disapa Awang ini.

Pun ia cukup khawatir melihat beberapa hotel di Jogja yang memilih tutup sementara, para hotelier lain yang terpaksa di rumahkan, hingga para petani yang pendapatannya berkurang lantaran tidak adanya orderan dari pihak hotel. Untuk itu, Awang berharap pemerintah nantinya bisa memberikan dukungan yang bisa mempercepat pulihnya bisnis hotel, salah satunya dengan meniadakan pajak hotel dan restoran. 

Wow, Hotel di Yogyakarta Berikan Semangat Perangi Virus Corona Lewat Lampu. (Dok. Istimewa)
Wow, Hotel di Yogyakarta Berikan Semangat Perangi Virus Corona Lewat Lampu. (Dok. Istimewa)

Merespon situasi pandemi seperti saat ini, menurut Awang, penting untuk tetap mengirimkan semangat sekaligus terus membangun kepercayaan masyakarat terhadap pihak hotel. 

Hal ini lah kemudian yang menjadi salah satu latar belakang adanya aksi solidartias pada hotelier seluruh Jogja lewat From Jogja with Love pada Sabtu (4/4) lalu.

"Kami ingin menciptakan optimisme di tengah pandemi dan menunjukkan kalau kita masih hidup, kita masih melayani masyarakat dengan sepenuh hati," tambah Awang.

Meski bisnis pariwisata Jogja yang kini tertatih-tatih didera pandemi, namun baik Awang maupun Arif memilih mengambil sikap optimis bahwa keadaan pasti membaik.

Arif menyebut geliat wisata Jogja pasti akan pulih, mengingat saat ini orang-orang telah menahan supaya tak keluar rumah. Maka, selepas pandemi berakhir, orang-orang dipastikan pasti akan liburan.

Sementara Awang mengatakan, dirinya optimis bahwa dunia pariwisata akan lebih baik ke depannya, di mana orang akan lebih aware soal kesehatan, dan hal tersebut memberikan dampak baik bagi usaha peningkatan pelayan perhotelan.

Terkait

Terkini